Posted by: rani agias on: September 6, 2008
Dalam hidup, seringkali kita merasa tidak puas akan apa yang telah kita raih. Secara subjektif, kita memandang diri kita belum melakukan banyak hal. Timbullah perasaan kurang dan terus menuntut diri untuk lebih baik lagi. Padahal, apabila orang lain menilai diri kita, belum tentu mereka sependapat dengan kita. Menurut mereka, dengan apa yang telah kita lakukan sebenarnya kita ini termasuk sebagai seorang yang sukses.
Kita sering kali membandingkan diri kita dengan orang lain untuk mengukur sebuah kesuksesan. Apabila kita melihat orang lain melakukan hal-hal yang belum kita lakukan, maka kita akan menganggap diri kita tidak sukses dan orang tersebutlah yang lebih sukses. Tanpa kita ketahui terkadang orang yang kita nilai lebih sukses, justru menganggap kita lebih sukses dari dirinya. Memang pada dasarnya kita tidak pernah puas pada apa yang telah kita capai.
Pendefinisian sukses sebenarnya berbeda-beda pada setiap orang. Bagi beberapa orang, sukses dianggap sebagai sebuah keberuntungan, kemasyuran, atau terus mendapat penghargaan. Sedangkan bagi yang lain, sukses adalah apabila ia populer, mendapat status sosial yang tinggi, atau memiliki pekerjaan bergengsi. Maka tidak mengherankan apabila kita dan orang lain memiliki penilaian yang berbeda tentang kesuksesan seseorang.
Jadi sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan sukses? Sukses berarti pemenuhan atau pencapaian pribadi yang berlangsung seumur hidup. Pemenuhan atau pencapaian pribadi ini akan terjadi dengan menciptakan makna dalam kehidupan pribadi dan dalam pekerjaan kita.
Sukses jenis ini tidak diberikan oleh orang lain, tetapi juga tidak dapat diambil oleh orang lain. Untuk menciptakan makna tersebut diperlukan keberanian mengambil risiko, menghadapi tantangan dan menggunakan sumber daya terbaik kita untuk mengembangkan secara penuh potensi-potensi yang kita miliki.
Perlu diingat bahwa sukses itu bukanlah nasib. Sukses adalah sebuah perjalanan dalam hidup kita. Jadi, kita perlu merasa iri dengan orang lain yang kita anggap beruntung atas kesuksesan bertubi-tubi yang diraihnya.
Sebagai sebuah perjalanan dalam hidup, maka kita perlu melihat ke dalam diri kita sebenarnya apa value (nilai) yang kita miliki. Apabila nilai yang kita miliki adalah untuk melayani sesama, maka kita tidak perlu iri dengan memandang orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi sebagai seorang yang lebih sukses dari kita.
Nilai yang kita miliki ini akan mengarahkan hidup kita untuk mendapatkan makna dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan. Dengan kata lain, apabila kita merasa goyah karena merasa belum mencapai kesuksesan seperti orang lain, maka kita perlu mengingat lagi nilai yang kita miliki tersebut.
Prestasi
Secara nyata, salah satu indikasi dari kesuksesan adalah prestasi yang kita peroleh. Setiap dari kita pasti memiliki motivasi untuk berprestasi. Dari kecil, orangtua selalu mendorong kita untuk berprestasi.
Namun, kadar dari motivasi tersebut akan berbeda-beda pada setiap orang. Apakah motivasi berprestasi akan menjadi prioritas utama kita atau tidak, akan sangat bergantung pada beberapa faktor, seperti urutan kelahiran, budaya, nilai pribadi, peran gender, dan pengalaman masa lalu.
Sebagai contoh, biasanya anak pertama cenderung mempunyai motivasi yang tinggi dalam berprestasi dibandingkan dengan adik-adiknya. Hal ini terjadi karena sebagai anak sulung, anak yang pertama kali dimiliki oleh orangtua, mereka mendapat perhatian yang besar dari orangtuanya. Perhatian yang besar ini akan membuat anak sulung berani menghadapi sesuatu yang sulit atau menantang.
Motivasi berprestasi merupakan kombinasi yang kompleks dari berbagai faktor. Dua elemen dari motivasi berprestasi adalah keinginan untuk sukses dan takut akan kegagalan. Setiap dari kita memiliki kombinasi yang berbeda dari dua elemen tersebut.
Orang yang besar keinginannya untuk sukses dan kecil ketakutannya akan gagal, biasanya akan memilih jenis tugas yang realistik atau dapat diwujudkan dengan tingkat kesulitannya moderate (sedang).
Sedangkan, orang yang sangat kuat keinginannya untuk sukses, dan sangat besar ketakutannya akan gagal, akan membuat target yang sangat mudah dengan disertai perasaan tidak yakin akan dapat mencapai tujuannya tersebut.
Meskipun indikasi nyata dari kesuksesan adalah prestasi, kita perlu berhati-hati melihat apakah motivasi yang mendasarinya memang ke- inginan untuk berprestasi atau sekadar kebutuhan untuk mendapat pengakuan?
Motivasi berprestasi mengacu pada keinginan untuk menguasai sesuatu yang sulit atau menantang secara mandiri dan sesukses mungkin. Sedangkan, kebutuhan untuk mendapat pengakuan mengacu pada keinginan untuk bekerja keras dan tampil sebaik mungkin di hadapan orang lain.
Apabila motivasi berprestasi muncul karena adanya perhatian yang besar, maka sebaliknya, kebutuhan akan pengakuan muncul karena kurangnya kasih sayang dan afeksi.
Dapat dilihat bahwa ke- inginan untuk sukses pada motivasi berprestasi tidak akan tergantung pada penghargaan yang diberikan oleh orang lain, dan keinginan untuk sukses pada kebutuhan untuk mendapat pengakuan sangat tergantung pada penghargaan yang diberikan oleh orang lain.
Oleh karena itu, umumnya orang yang memiliki kebutuhan untuk mendapat penghargaan tidak akan segan-segan membanggakan prestasi yang telah diperolehnya pada orang lain.
Orang-orang seperti ini akan sulit menciptakan makna bagi dirinya sendiri terhadap prestasi-prestasi yang diraihnya. Kesuksesan yang diraihnya pun akan sangat bergantung pada pemberian penghargaan dari orang lain, sehingga akan mudah diambil juga oleh orang lain.
Untuk mengartikan sebuah kesuksesan, maka kita perlu mendefinisikannya dan menetapkan nilai yang ingin diwujudkan.
Apabila kita menganggap kesuksesan sebagai pencapaian pribadi yang berlangsung seumur hidup, maka alangkah baiknya apabila kita ingin berprestasi karena memang benar-benar menginginkannya dan bukan karena dipengaruhi oleh orang lain.
Kita perlu melihat pada diri kita sendiri, apakah selama ini kesuksesan yang kita inginannya didasarkan ke- inginan berprestasi ataukah sekadar kebutuhan untuk diakui?
Posted by: rani agias on: June 14, 2008
Di tengah hiruk pikuk dunia ini, kita sering merasakan adanya kerinduan kepada Tuhan. Maka tidak mengherankan apabila di sela-sela kesibukan yang beragam, kita selalu mengupayakan meluangkan waktu untuk beribadah. Dengan beribadah, kita berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.
Kita berusaha ‘berkomunikasi’ secara pribadi dengan-Nya. Kita menjalin relasi intim yang bersifat personal, sehingga hanya kita dan Dia-lah yang mengetahui keintiman tersebut.
Manusia memang telah menyadari adanya kekuatan yang lebih besar di luar dirinya. Kekuatan yang bahkan dapat mengontrol/mengendalikan hal-hal di luar kemampuannya.
Kesadaran ini mendorong manusia untuk menyembah dan mengagung- agungkan para dewa. Setelah mengenal agama, kesadaran manusia akan adanya kekuatan di luar dirinya pun semakin terteguhkan.
Meskipun tanpa wujud, tetapi kita tetap mengakui Tuhan sebagai Sang Pencipta. Hal ini diwujudnyatakan dalam kesadaran kita untuk mematuhi apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.
Selain menjalankan apa yang diajarkan dalam agama masing-masing, secara pribadi kita pun berusaha untuk meningkatkan kehidupan spiritual kita. Hal ini merupakan upaya untuk lebih memuaskan kerinduan kita pada Sang Pencipta.
Konsep spiritualitas sendiri pada dasarnya lebih luas daripada konsep religiositas (keagamaan). Spiritualitas mengacu pada kecenderungan manusia untuk mencari makna dalam hidup melalui proses transedensi (hubungan antara manusia dan Pencipta-Nya) atau keinginan untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada individu itu sendiri. Sedangkan, religiositas merupakan pencarian spiritual yang berkaitan dengan institusi agama yang formal. Dengan kata lain, religiositas merupakan pengejawantahan dari spiritualitas.
Dengan mengadopsi perspektif-perspektif dalam ajaran agama manusia menjadi memiliki “tugas” dalam hidupnya, yaitu mendapatkan makna dan tujuan dalam hidup. Agama sendiri memberikan perspektif yang lebih luas dalam kehidupan manusia dan memberikan penjelasan serta pemahaman kenapa peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan dapat terjadi dalam hidup kita.
Misalnya saja ketika kita menemukan kesulitan dalam hidup, agama dapat memberikan penghiburan melalui penjelasan akan peristiwa yang tidak diharapkan tersebut dan dengan pemberian harapan/semangat baru. Pencarian makna hidup merupakan proses untuk menemukan cara agar hidup kita berguna dan dapat dipahami.
Terdapat empat alasan mengapa orang membutuhkan rasa bermakna. Alasan pertama, adalah untuk membantu menemukan tujuan dalam hidup. Hal ini mengacu pada peristiwa di masa lalu dan masa kini yang akan mengarahkan pada tujuan pada masa yang akan datang. Kita menjadi menyadari di mana kita sekarang, di mana kita sebelumnya, dan dimana kita akan bertindak dalam hubungan dengan tujuan kita.
Alasan kedua, adalah untuk memberikan rasa mampu atau kontrol terhadap diri sendiri. Mempunyai makna dalam hidup memungkinkan kita percaya bahwa kita lebih dari sekadar pantulan peristiwa-peristiwa di dunia ini. Alasan ketiga, adalah bahwa makna membantu menciptakan cara untuk melegitimasi atau membenarkan tindakan. Dengan legitimasi dan pembenaran ini, maka akan terbentuk dasar nilai-nilai, moralitas, dan etika. Alasan keempat, adalah untuk membantu berkembangnya rasa berharga. Hal ini terjadi karena manusia cenderung untuk berkumpul dengan orang lain yang memberikan/membagikan rasa kebermaknaan dan rasa kebersamaan akan menciptakan rasa berharga.
Memperbesar kebermaknaan dalam hidup sendiri dapat diciptakan dengan berbagai cara. Kita dapat menciptakan keharmonisan, hubungan dan kesesuaian antara berbagai macam aspek identitas diri dan tujuan dalam hidup.
Cara pertama, misalnya jika tujuan utama seseorang dalam hidup berkisar pada musik, maka orang tersebut akan merasa bahwa hidupnya akan semakin bermakna jika ia memainkan musik, belajar tentang musik, menghabiskan waktu dengan musisi-musisi, dan mempunyai talenta musik yang cukup untuk terus bermain musik seumur hidupnya.
Cara kedua adalah dengan perkembangan skema hidup yang konsisten. Skema hidup sendiri adalah cerita kehidupan tentang siapakah kita, apa yang akan menjadi tujuan hidup kita, masalah-masalah yang harus diatasi, dan asumsi dasar tentang bagaimana dunia berjalan.
Aspek signifikan dari skema hidup kita adalah cara kita memutuskan tentang penyebab yang ada dalam dunia ini. Pencarian makna dapat dilihat sebagai bagian dari penyebab yang masuk akal atas kejadian-kejadian di dunia.
Cara ketiga adalah kesesuaian akan situasi saat ini dengan keseluruhan tujuan hidup. Tujuan memberikan pedoman dalam hidup, yang mengarahkan usaha-usaha yang kita lakukan agar tetap konsisten.
Proses menemukan makna sendiri merupakan proses untuk mengurangi diskrepansi antara makna situasional saat ini dan makna global yang kita miliki. Cara keempat adalah dengan memberikan pelayanan pada orang lain atau dedikasi untuk sesuatu yang bermanfaat.
Dengan meluangkan waktu untuk membantu orang lain, seseorang akan merasa bahwa ia berkontribusi untuk kesejahteraan umum dan membuat perbedaan di dunia. Perasaan bahwa hidupnya mempunyai arah dan tujuan, berarti bahwa seseorang merasa bahwa dunia merupakan tempat yang berbeda karena ia hidup di dalamnya.
Cara kelima adalah melalui kreativitas. Kreasi akan sesuatu yang baru memberikan rasa akan pentingnya hidup. Cara keenam adalah hidup sepenuh dan sedalam mungkin. Hasrat untuk mengalami hidup secara penuh akan memberikan rasa untuk berpart isipasi secara aktif dan keterlibatan dalam hidup. Cara ketujuh adalah penderitaan.
Penderitaan sering dilihat sebagai stimulus potensial untuk pertumbuhan spiritual. Dengan berjuang melawati kesulitan, seseorang akan dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, mempunyai kesempatan untuk mengembangkan hubungan interpersonal, serta kesempatan untuk mengubah filosofi dalam hidup atau bagaimana akan menciptakan makna dari kesulitannya tersebut.
Hal terkahir yang dapat dilakukan adalah melalui pengalaman spiritual atau keagamaan. Melalui interpretasi spiritual atau keagamaan kita akan mendapatkan pengalaman emosional.
Pengalaman keagamaan dapat bersifat ringan, seperti merasa aman dan nyaman ketika memasuki tempat ibadah, atau bersifat intens, seperti mendapat pencerahan spiritual. Melalui cara-cara tersebut terlihat bahwa usaha manusia untuk mencari Tuhan yang diwujudkan dalam kehidupan beragama, sebenarnya akan tercermin dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Segala aktivitas yang dilakukan manusia akan terarah pada satu tujuan yang global, yaitu menemukan kesejatian dalam makna hidup. Selama ini, tanpa disadari kita sering memisah-misahkan bagian dalam kehidupan kita. Kehidupan duniawi dianggap terpisah dengan kehidupan spiritual. Maka tidak ada salahnya apabila kita mulai mencoba mengintegrasikan antara keduanya, sehingga dapat menciptakan kehidupan beragama yang lebih baik.
Posted by: rani agias on: April 23, 2008
Di milis, temen saya mengeluh bahwa semenjak berhenti bekerja dan mengasuh anak pertamanya, ia menjadi lemot. Ia merasa rindu untuk bekerja kembali, tetapi ia tidak tega untuk meninggalkan anaknya tersebut. Fenomena seperti ini banyak saya jumpai akhir-akhir ini. Mungkin memang bukan suatu fenomena yang baru, tetapi sekarang banyak terjadi di lingkungan sekitar saya. Masalah ini sebenarnya merupakan masalah klasik, yang terus-menerus menjadi perdebatan. Boleh dikatakan dilema untuk bekerja atau mengasuh anak merupakan unfinished business bagi seorang wanita.
Dari semua ini, hal yang mengusik saya adalah mengapa di jaman yang sudah modern ini ketika wanita sudah dapat menikmati pendidikan yang tinggi dan mencapai jenjang karir yang diinginkan, mereka memilih “mundur” untuk mengasuh anak ?. Ada yang berencana mundur sejenak dan kemudian kembali lagi untuk mengaktualisasikan diri. Ada juga yang benar-benar memutuskan mundur untuk seterusnya dan mengantualisasikan diri dengan cara yang lain. Semua ini tentu saja sangat tergantung pada situasi yang dihadapi.
Sebenarnya apa yang mendorong wanita untuk memilih mundur ?. Apakah ini memang sudah menjadi kodratnya ? Namun, benarkah demikian ? Benarkah ini hanya semata-mata masalah kodrat ? Menurut hemat saya, pertanyaan tersebut tidak dapat secara absolut dijawab dengan ya atau tidak. Terlebih dahulu perlu dipahami mengenai konsep mothering. Mothering sendiri dapat dijelaskan sebagai keadaan dimana seorang individu mengasuh atau merawat individu yang lain. Kedua individu tersebut dapat memiliki hubungan biologis maupun tidak. Dalam penjelasan tersebut sebenarnya tidak diungkapkan secara jelas jenis kelamin dari individu yang memberikan pengasuhan atau perawatan tersebut. Namun, ketika mengingat kata mothering biasanya kita akan mengasosiasikannya dengan wanita.
Nancy Chodorow, seorang feminis, menggunakan pendekatan psikoanalisa untuk menjelaskan terbentuknya mothering pada wanita. Menurut Chodorow, semua anak pada umumnya banyak diasuh oleh wanita. Dengan pengasuh utama wanita tersebut, maka kapasitas hubungan anak dengan orang lain akan terbentuk atas dasar relasi anak dengan wanita. Namun, batasan tersebut dimaknai secara berbeda oleh anak perempuan dan laki-laki. Anak perempuan merasakan adanya koneksi dengan ibunya, karena mereka memiliki jenis kelamin yang sama. Sedangkan anak laki-laki justru merasakan adanya ancaman atau bahaya ketika harus tergantung pada ibunya, sehingga ia berbalik ke jenis kelamin yang lainnya. Pada dasarnya anak laki-laki sendiri merasa bahwa secara fisik dirinya berbeda dengan ibunya. Dari perspektif ini terlihat bahwa identitas gender pada wanita terbentuk secara normal dan alamiah, sedangkan identitas gender pada laki-laki terbentuk secara membingungkan dan berkonflik karena terjadi diskoneksi dengan ibunya.
Tetapi hal tersebut hanya terjadi pada fase pra Oedipal, karena pada fase Oedipal, yaitu usia 3-4 tahun, terjadi perubahan kekuasaan, dari dominasi wanita beralih ke dominasi laki-laki. Pada fase ini ayah lah yang menjadi pusat perhatian. Fase Oedipal sendiri dapat dipahami sebagai fase dimana anak memiliki hasrat seksual terhadap orang tua yang jenis kelaminnya berbeda, dan mengharapkan kematian terhadap orang tua yang jenis kelaminnya sama. Keadaan ini akan membuat anak bersaing dengan orang tua yang jenis kelaminnya sama untuk mendapat cinta dari orang tua yang jenis kelaminnya berbeda. Namun karena tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan orang tua yang jenis kelaminnya sama, maka mereka pun mencoba mengindentifikasi orang tua yang jenis kelaminnya sama untuk mendapatkan cinta dari orang tua yang jenis kelaminnya berbeda. Apabila Oedipal Complex ini dapat diatasi dengan baik, maka akan terbentuk peran gender (gender roles) dan identitas gender yang tepat.
Pada anak perempuan, meskipun di fase Oedipal mereka membenci dan memiliki keinginan membunuh ibunya untuk mendapatkan cinta dan attachment dari ayahnya, tetapi bagaimana pun juga resolusi terhadap Oedipal Complex ini tidak akan dapat menghilangkan jejak indentifikasi terhadap ibu yang telah terbentuk di fase pra-Oedipal. Identifikasi yang dilakukan oleh seorang anak perempuan terhadap ibunya lebih ke arah identifikasi terhadap peran ibu daripada identifikasi terhadap ibunya sebagai seorang individu. Identifikasi atau keterikatan dengan ibunya yang tidak pernah hilang tersebut, membuat wanita memiliki dorongan untuk mengasuh (nurturing) dan berada di rumah. Jadi dorongan tersebut ada dan menjadi kerinduan pada setiap wanita.
Banyak wanita dalam rentang dua puluh-sampai tiga puluh tahun yang menunda mothering untuk berkarir. Namun, kerinduan terhadap mothering itu akan muncul. Bahkan dapat menjadi sebuah kerinduan yang sangat besar. Setiap wanita tentu mempunyai cara yang berbeda untuk mewujudkan motheringnya. Entah dengan mengasuh dan merawat anak kandung atau anak angkat, maupun mengasuh dan merawat orang lain yang memerlukan perhatian dan kasih sayang. Disini konsep mothering tidak hanya terpaku pada anak, tetapi siapa saja yang dianggap tepat.
Meskipun mothering sering diasosiasikan dengan wanita, tetapi sebenarnya terbuka untuk dilakukan oleh wanita maupun pria. Nancy Chodorow sendiri mengungkapkan bahwa memang sebaiknya tidak hanya wanita yang berperan sebagai pengasuh utama, sehingga dorongan untuk mengasuh juga terbentuk pada pria. Saya pribadi memandang hal ini sebagai bentuk kerjasama antara wanita dan pria. Masalah mothering ini memang telah menjadi perdebatan yang tiada akhir, akan siapakah yang seharusnya melakukan tanggung jawab tersebut ?. Tidak mudah menjawabnya, karena seringkali faktor budaya memberikan pengaruh dalam pandangan atau penilaian kita. Untuk itu diperlukan diskusi-diskusi dan pembahasan yang objektif secara lebih mendalam. Saya sendiri hanya bisa mengembalikan ke pendapat Anda masing-masing. Semoga perenungan ini memberikan sumbangan untuk kemajuan dan kesejahteraan wanita Indonesia.
Posted by: rani agias on: February 26, 2008
TOPENG MANUSIA
“Dunia ini panggung sandiwara, Cerita yang mudah berubah, Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani, Setiap kita dapat satu peranan, yang harus kita mainkan, Ada peran wajar ada peran berpura-pura, Mengapa kita bersandiwara, Mengapa kita bersandiwara, Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak, Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang, Dunia ini penuh peranan, Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan, Mengapa kita bersandiwara”
Hmmm….dunia memang panggung sandiwara. Kalau kita bisa mengambil jarak dan melihat kehidupan kita sendiri, ibaratnya kita menjadi penonton dalam sebuah pertunjukan teater. Dalam panggung teater setiap pemain harus berperan sesuai dengan lakonnya. Mereka harus menampilkan karakter yang sesuai dengan tokoh yang dijalaninya, sehingga penonton pun dapat memahaminya. Sebagai suatu pertunjukkan, tidak ada pengeditan pada pementasan teater. Ibaratnya, terjadilah apa yang terjadi. Untuk menghidupkan jalan cerita dalam pertunjukan teater, perlu adanya interaksi antar pemain. Di atas panggung, mereka harus saling melempar dialog sesuai dengan yang ada dalam skenario.
Apabila dianalogikan, kehidupan kita sama seperti pertunjukkan teater. Setiap manusia mempunyai jalan hidup sendiri-sendiri sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Ada yang harus berlakon sebagai guru, pemuka agama, petani, ahli medis, sopir, dan lain sebagainya. Sama halnya di panggung teater, dalam kehidupan ini kita pun harus berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dapat dipahami karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan di dunia tidak akan berjalan seperti sekarang ini jika kita hanya sendirian.
Diperlukannya interaksi dengan orang lain tersebut membuat kita seringkali bersandiwara. Namun berbeda dengan panggung teater, di panggung dunia ini kita tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih sebelum pementasan. Kita sendiri lah yang harus membentuk karakter diri. Tanpa ada naskah, kita harus dapat memberikan reaksi yang bersifat spontan. Meskipun demikian, kita tidak lah dapat menampilkan diri kita secara utuh kepada orang lain. Kita tidak mungkin secara jujur mengungkapkan dorongan-dorongan mendasar, yang bersifat liar, kepada orang lain. Ketika tersinggung dengan orang lain, tak pantas rasanya kalo kita secara terang-terangan membiarkan begitu saja hasrat untuk membunuh muncul dan tampil menjadi perilaku yang nyata. Disini kita harus melakukan filter terhadap hasrat tersebut atau mengubahnya menjadi perilaku yang lebih pantas.
Filter tersebut memang diperlukan, karena kita harus menghidupkan peran yang dimiliki. Kita harus memilah-milah manakah perilaku yang sesuai dan manakah yang tidak sesuai dengan tuntutan peran kita. Tanpa disadari, dalam sebuah interaksi sosial kita sering menampilkan imej tertentu kepada orang lain. Oleh Carl Gustav Jung (1875-1961), imej ini diistilahkan sebagai ‘mask’ atau topeng. Topeng tersebut digunakan untuk menyembunyikan bagian terdalam dalam diri kita kepada orang lain. Topeng apa yang kita tampilkan kepada orang lain, sebenarnya merefleksikan persepsi kita terhadap peran sosial yang diharapkan untuk kita perankan dalam kehidupan ini. Selain itu, secara tidak langsung juga merefleksikan harapan bagaimana kita akan dipandang oleh orang lain.
Topeng yang diadopsi oleh manusia untuk berespon terhadap tuntutan lingkungan dan norma-norma yang berlaku disebut sebagai persona. Menurut Jung, persona merupakan bagian dari ketidaksadaran manusia. Persona adalah public personality (kepribadian yang ditampilkan untuk umum), yaitu aspek yang ditampilkan pada orang lain, yang bertentangan dengan private personality (kepribadian yang diketahui hanya untuk diri sendiri). Persona.ini dibutuhkan untuk bertahan hidup. Dengan adanya persona ini kita menjadi memiliki kemampuan untuk mengontrol perasaan, pikiran, dan tingkah laku.
Sebenarnya persona sendiri terdiri dari berbagai topeng. Dalam setiap kesempatan kita sering menampilkan perilaku yang berbeda, tergantung pada peran yang sedang kita jalankan saat itu. Ketika sedang berperan sebagai atasan, maka kita akan menampilkan diri sebagai seorang yang keras dan disiplin. Namun sebaliknya, ketika berperan sebagai orang tua, kita akan menampilkan diri sebagai seorang yang hangat dan humoris. Adanya berbagai topeng tersebut tidak serta merta menujukkan bahwa kita adalah seorang yang berkepribadian ganda. Hal ini hanya lah upaya kita bertahan dalam menghadapi situasi yang berbeda.
Persona adalah topeng yang digunakan sebelum kita menampilkan diri kita secara utuh kepada orang lain. Topeng yang kita tampilkan akan memberikan informasi kepada orang lain mengenai diri kita. Dengan informasi yang dimiliki, mereka akan membuat penilaian tentang diri kita. Mereka akan memiliki gambaran yang utuh tentang kepribadian kita. Pada akhirnya, mereka pun akan mengenakan topeng yang sesuai dalam berinteraksi dengan diri kita. Namun, terkadang topeng sengaja digunakan untuk memanipulasi orang lain. Topeng tersebut sengaja digunakan agar orang lain memiliki kesan tertentu terhadap diri kita sesuai dengan yang kita harapkan. Apabila ini terjadi, maka kita telah menciptakan kesan yang salah (false impression) dari diri kita. Orang lain pun akan menangkap kesan yang salah tersebut.
Oleh karena itu sangat diharapkan bahwa topeng yang kita miliki tersebut hanya sekedar berguna untuk memberikan kesan yang baik (good impression) pada orang lain, terutama orang yang baru kita kenal. Apabila terlau berindetitas sepenuhnya pada persona, maka kita akan menjadi terasing dari dirinya sendiri dan perasaan yang sebenarnya. Disini kita tidak akan bisa menjadi diri sendiri, karena hanya mengenakan topeng sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Kita tidak berani bersikap jujur, dimana hanya ingin menampilkan kesan yang selalu bagus dihadapan orang lain.