Rani Agias’s Weblog

Memahami Kebutuhan Beragama

Posted by: rani agias on: June 14, 2008

Di tengah hiruk pikuk dunia ini, kita sering merasakan adanya kerinduan kepada Tuhan. Maka tidak mengherankan apabila di sela-sela kesibukan yang beragam, kita selalu mengupayakan meluangkan waktu untuk beribadah. Dengan beribadah, kita berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kita berusaha ‘berkomunikasi’ secara pribadi dengan-Nya. Kita menjalin relasi intim yang bersifat personal, sehingga hanya kita dan Dia-lah yang mengetahui keintiman tersebut.

Manusia memang telah menyadari adanya kekuatan yang lebih besar di luar dirinya. Kekuatan yang bahkan dapat mengontrol/mengendalikan hal-hal di luar kemampuannya.

Kesadaran ini mendorong manusia untuk menyembah dan mengagung- agungkan para dewa. Setelah mengenal agama, kesadaran manusia akan adanya kekuatan di luar dirinya pun semakin terteguhkan.

Meskipun tanpa wujud, tetapi kita tetap mengakui Tuhan sebagai Sang Pencipta. Hal ini diwujudnyatakan dalam kesadaran kita untuk mematuhi apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.

Selain menjalankan apa yang diajarkan dalam agama masing-masing, secara pribadi kita pun berusaha untuk meningkatkan kehidupan spiritual kita. Hal ini merupakan upaya untuk lebih memuaskan kerinduan kita pada Sang Pencipta.

Konsep spiritualitas sendiri pada dasarnya lebih luas daripada konsep religiositas (keagamaan). Spiritualitas mengacu pada kecenderungan manusia untuk mencari makna dalam hidup melalui proses transedensi (hubungan antara manusia dan Pencipta-Nya) atau keinginan untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada individu itu sendiri. Sedangkan, religiositas merupakan pencarian spiritual yang berkaitan dengan institusi agama yang formal. Dengan kata lain, religiositas merupakan pengejawantahan dari spiritualitas.

Dengan mengadopsi perspektif-perspektif dalam ajaran agama manusia menjadi memiliki “tugas” dalam hidupnya, yaitu mendapatkan makna dan tujuan dalam hidup. Agama sendiri memberikan perspektif yang lebih luas dalam kehidupan manusia dan memberikan penjelasan serta pemahaman kenapa peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan dapat terjadi dalam hidup kita.

Misalnya saja ketika kita menemukan kesulitan dalam hidup, agama dapat memberikan penghiburan melalui penjelasan akan peristiwa yang tidak diharapkan tersebut dan dengan pemberian harapan/semangat baru. Pencarian makna hidup merupakan proses untuk menemukan cara agar hidup kita berguna dan dapat dipahami.

Terdapat empat alasan mengapa orang membutuhkan rasa bermakna. Alasan pertama, adalah untuk membantu menemukan tujuan dalam hidup. Hal ini mengacu pada peristiwa di masa lalu dan masa kini yang akan mengarahkan pada tujuan pada masa yang akan datang. Kita menjadi menyadari di mana kita sekarang, di mana kita sebelumnya, dan dimana kita akan bertindak dalam hubungan dengan tujuan kita.

Alasan kedua, adalah untuk memberikan rasa mampu atau kontrol terhadap diri sendiri. Mempunyai makna dalam hidup memungkinkan kita percaya bahwa kita lebih dari sekadar pantulan peristiwa-peristiwa di dunia ini. Alasan ketiga, adalah bahwa makna membantu menciptakan cara untuk melegitimasi atau membenarkan tindakan. Dengan legitimasi dan pembenaran ini, maka akan terbentuk dasar nilai-nilai, moralitas, dan etika. Alasan keempat, adalah untuk membantu berkembangnya rasa berharga. Hal ini terjadi karena manusia cenderung untuk berkumpul dengan orang lain yang memberikan/membagikan rasa kebermaknaan dan rasa kebersamaan akan menciptakan rasa berharga.

Memperbesar kebermaknaan dalam hidup sendiri dapat diciptakan dengan berbagai cara. Kita dapat menciptakan keharmonisan, hubungan dan kesesuaian antara berbagai macam aspek identitas diri dan tujuan dalam hidup.

Cara pertama, misalnya jika tujuan utama seseorang dalam hidup berkisar pada musik, maka orang tersebut akan merasa bahwa hidupnya akan semakin bermakna jika ia memainkan musik, belajar tentang musik, menghabiskan waktu dengan musisi-musisi, dan mempunyai talenta musik yang cukup untuk terus bermain musik seumur hidupnya.

Cara kedua adalah dengan perkembangan skema hidup yang konsisten. Skema hidup sendiri adalah cerita kehidupan tentang siapakah kita, apa yang akan menjadi tujuan hidup kita, masalah-masalah yang harus diatasi, dan asumsi dasar tentang bagaimana dunia berjalan.

Aspek signifikan dari skema hidup kita adalah cara kita memutuskan tentang penyebab yang ada dalam dunia ini. Pencarian makna dapat dilihat sebagai bagian dari penyebab yang masuk akal atas kejadian-kejadian di dunia.

Cara ketiga adalah kesesuaian akan situasi saat ini dengan keseluruhan tujuan hidup. Tujuan memberikan pedoman dalam hidup, yang mengarahkan usaha-usaha yang kita lakukan agar tetap konsisten.

Proses menemukan makna sendiri merupakan proses untuk mengurangi diskrepansi antara makna situasional saat ini dan makna global yang kita miliki. Cara keempat adalah dengan memberikan pelayanan pada orang lain atau dedikasi untuk sesuatu yang bermanfaat.

Dengan meluangkan waktu untuk membantu orang lain, seseorang akan merasa bahwa ia berkontribusi untuk kesejahteraan umum dan membuat perbedaan di dunia. Perasaan bahwa hidupnya mempunyai arah dan tujuan, berarti bahwa seseorang merasa bahwa dunia merupakan tempat yang berbeda karena ia hidup di dalamnya.

Cara kelima adalah melalui kreativitas. Kreasi akan sesuatu yang baru memberikan rasa akan pentingnya hidup. Cara keenam adalah hidup sepenuh dan sedalam mungkin. Hasrat untuk mengalami hidup secara penuh akan memberikan rasa untuk berpart isipasi secara aktif dan keterlibatan dalam hidup. Cara ketujuh adalah penderitaan.

Penderitaan sering dilihat sebagai stimulus potensial untuk pertumbuhan spiritual. Dengan berjuang melawati kesulitan, seseorang akan dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, mempunyai kesempatan untuk mengembangkan hubungan interpersonal, serta kesempatan untuk mengubah filosofi dalam hidup atau bagaimana akan menciptakan makna dari kesulitannya tersebut.

Hal terkahir yang dapat dilakukan adalah melalui pengalaman spiritual atau keagamaan. Melalui interpretasi spiritual atau keagamaan kita akan mendapatkan pengalaman emosional.

Pengalaman keagamaan dapat bersifat ringan, seperti merasa aman dan nyaman ketika memasuki tempat ibadah, atau bersifat intens, seperti mendapat pencerahan spiritual. Melalui cara-cara tersebut terlihat bahwa usaha manusia untuk mencari Tuhan yang diwujudkan dalam kehidupan beragama, sebenarnya akan tercermin dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Segala aktivitas yang dilakukan manusia akan terarah pada satu tujuan yang global, yaitu menemukan kesejatian dalam makna hidup. Selama ini, tanpa disadari kita sering memisah-misahkan bagian dalam kehidupan kita. Kehidupan duniawi dianggap terpisah dengan kehidupan spiritual. Maka tidak ada salahnya apabila kita mulai mencoba mengintegrasikan antara keduanya, sehingga dapat menciptakan kehidupan beragama yang lebih baik.

Advertisement

1 Response to "Memahami Kebutuhan Beragama"

thanks ya
untuk materi kultum… hehe
bagus,,, :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • None
  • suntea: thanks ya untuk materi kultum... hehe bagus,,, :)

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.